Hari ini adalah hari ulang tahun sahabatku, “Rina”. Dia, terlihat
bahagia karena orang tuanya memberinya hadiah yang indah. Sedangkan,
teman-teman juga memberinya banyak hadiah.
Tapi, diulang tahunnya
kali ini aku tidak bisa memberinya apa-apa. Karena, keluargaku sekarang
sedang kesulitan ekonomi. Aku berharap agar Rina mengerti keadaanku
sekarang.
Dan, ternyata Rina mengerti keadaan ku sekarang. Rina memang sahabat yang paling baik yang pernah aku miliki.
Beberapa hari kemudian, Rina pun jatuh sakit. Aku ingin menjenguknya
di rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, ibu Rina berkata, “Rina
sakit parah dan kemungkinan sudah tidak ada harapan untuk hidup lebih
lama”. Dia terserang penyakit yang sangat parah dan tidak ada
kemungkinan untuk sembuh. Satu persatu organ tubuhnya rusak dan butuh
donor yang cocok untuknya.
Aku pun sedih melihat sahabat ku harus
menanggung sakitnya sendiri. Aku mencoba untuk pergi ke laboratorium
untuk tes apakah organ tubuh ku cocok untuk Rina. Aku ingin melihat
sahabat ku hidup sehat dan bahagia seperti dulu lagi. Aku mencoba
membantunya sebisa yang aku bisa.
Tenyata, hasil tesnya cocok
dan aku meminta izin kepada ibu untuk mendonorkan organ tubuh ku pada
Rina. Tapi, ibu tidak menyetujui keputusan ku, karna ibu tidak ingin
apabila nanti akibatnya terjadi padaku. Karena ibu sangat sayang padaku
dan tidak ingin terjadi apa-apa dengan ku. Tapi, aku sangat ingin
mendonorkan organ tubuh ku pada Rina. Aku berusaha meyakinkan ibu agar
ibu menyetujui keputusan ku.
Dan akhirnya, ibu mengerti betapa Rina
sangat membutuhkan donor itu. Tapi, ibu juga kelihatan kurang ikhlas.
”Tapi, ini demi Rina bu...” ucapku. ”iya nak ibu mengerti perasaan mu.
Tapi apakah tidak bisa menggunakan cara yang lain nak...??” jawab ibu.
”Ayolah bu...!!” ucapku. ”Yaudah, terserah padamu ibu sudah mengingatkan
mu pokoknya..” jawab ibu.
Setelah mendapat persetujuan ibu,
keesokan harinya pun aku langsung diperbolehkan untuk pergi operasi.
Alhamdulillah, operasi berjalan lancar dan selamat. Organ tubuh ku
sekarang berada di dalam tubuh Rina. Kami, berdua merasa senang karena
operasinya lancar.
Satu hari, dua hari, rasanya badan masih terasa
sehat. Tapi lama kelamaan badan semakin hari semakin lemas dan sering
juga sakit. ”Apakah ini akibat dari operasi kemarin..??” tanyaku dalam
hati. Akhirnya aku harus menanggung hidup ku di atas kursi roda,
karena aku sudah tidak sanggup lagi untuk berjalan.
Hari demi hari telah berganti, aku sudah mulai beranjak remaja.
Sekarang aku sudah bersama dengan orang yang menyayangiku, yaitu “Roni”.
Roni sangat sayang padaku dan aku pun juga sangat sayang padanya. Tapi,
disisi lain Rina juga mencintai Roni. Aku pun bingung di antara dua
pilihan. Disisi lain aku sayang dan mencintai Roni tapi, disisi lain
juga aku sangat sayang dan merasa kasihan pada Rina.
Akhirnya,
aku putuskan untuk merelakan Roni bersama Rina. Tapi, Roni membantah
keputusan ku. ”Ron...kamu sayang sama aku kan..?? kalau kamu sayang sama
aku kamu harus mau sama Rina ya..??” ucapku pada Roni. ”Tapi Rani, aku
sangat mencintaimu, aku gak bisa bohongi perasaan ku. Aku sangat sayang
sama kamu, aku sudah terlanjur jatuh cinta sama kamu..” jawab Roni.
”Roni, aku ini punya penyakit yang parah..aku juga tidak bisa
membebankan kamu untuk mendorong aku terus.. lebih baik kamu sama Rina
ya. Dia cantik, dia pintar, dia baik hati juga.” sambung ku. (Roni
memegang kedua tangan Rani) ”Rani, walaupun kamu sakit, aku tetap sayang
padamu. Aku cinta kamu apa adanya. Sungguh, aku ndak bohong..!!” jawab
Roni. “udahlah Roni...Kamu sama Rina aja..” Jawab ku.
Aku pun
pergi meninggalkan Roni dengan menangis. ”Roni, maafkan aku.
Sesungguhnya aku juga tidak ingin kamu bersama dengan Rina. Tapi, ini
demi Rina...” Ucap ku dalam hati.
“Rani...,Raniiiiii kamu mau
kemana..” teriak Roni. ”Baiklah jika ini mau mu. Aku akan turuti mau mu.
Tapi dengarkan aku Rani, aku akan tetap sayang padamu..” sambung Roni.
Keesokan harinya, Roni pun menyatakan cintanya pada Rina dihadapan ku.
Aku pun senang walaupun hatiku sangat sakit dan sakit. Aku pun
mengatakan selamat kepada mereka berdua. Wajah ku terlihat bahagia
padahal hatiku menangis. Hatiku menangis tak masalah buat ku, yang
penting sahabat ku bahagia.
Hari demi hari berganti, aku pun
terus belajar mulai dari pelajaran yang aku terima di sekolah karena
sebentar lagi ujian kelulusan. Aku berjanji akan melupakan kejadian yang
telah berlalu.
Setiap Rina meminta bantuan selalu aku bantu
karena, aku tidak ingin dia merasa sedih. Aku ingin Rina selalu bahagia
walaupun nyawa taruhannya. Tapi, megapa Rina tidak pernah membantu ku
sejak dia bersama Roni. Seakan-akan dia sudah lupa sama sahabatnya
sendiri. Saat aku terjatuh Rina seakan-akan tidak mengerti bahwa aku
terjatuh. Tapi itu sudah aku anggap sebagai cobaan dalam persahabatan.
Setahun telah berlalu. Aku sudah lulus dari SMA. Tapi, sayangya aku
tidak bisa melanjutkan sekolahku ke tingkat yang lebih tinggi. Karena
sakit ku kini makin parah. Semenjak aku mendonorkan organ tubuhku, aku
menjadi sakit sakitan. Kini yang aku bisa hanya mengurung diri di dalam
rumah dan tidak pernah keluar rumah. Roni pun selalu memberiku semangat
untuk sembuh. Tapi, rasanya sudah tidak mungkin lagi untuk aku sembuh.
Dua tahun berlalu. Rani pun meninggal dunia. Roni pun menangis
menyesali kenapa dia harus menuruti kemauan Rani dulu. “Seandainya aku
sekarang bersama Rani, Aku akan coba membuat dia bahagia di akhir
hidupnya. Tapi, kini sudah terlambat bagi ku untuk melakukan itu” ujar
Roni dalam hati.
Rina pun juga menyesal. ”seharusnya aku tidak
menerima organ tubuhnya dulu” ucap Rina. ”Seharusnya aku yang ada di
dalam sini, bukan kamu Ran... Maafkan aku ya Rani, seandainya aku tidak
menerima donor tubuhmu, kamu tidak akan seperti ini. Aku sangat benci
pada diriku sendiri.., maafkan aku ya Rani..” sambung Rina.
“Sudahlah Rina.. Kita tidak boleh menyesali kepergiannya. Ini sudah
rencana-Nya yang di atas, syukuri saja apa yang terjadi” Jawab Roni.
Akhirnya, Rina menyadari ini sudah jalan hidup Rani. Rina hanya bisa
mendo’akan Rani disana.
“Terima kasih Rani.. Atas pengorbananmu, aku dapat hidup bahagia. Sekali lagi, terima kasih” Ucap Rina..
Cr : https://www.facebook.com/KisahPengorbananDemiCinta/posts/459202260834086
EVERYTHING
Selasa, 03 Oktober 2017
Kisah yang Sangat Mengharukan, Kisah Ini Akan Menginspirasi Pembacanya Untuk Hijrah Lebih Syar'i
Tak pernah tepikirkan sebelumnya
jika aku harus mengenakan khimar, menutup kepala dan rambutku. Semua
berawal dari ketertarikanku melihat kawan sekelasku berhijab, aku pikir
meraka terlihat cantik dan anggun memadukan warna pakaian dengan
khimarnya. Dan dari sanalah aku tertarik untuk mengikuti langkah
teman-temanku mengenakan busana tertutup dan memakai khimar. Aku mulai
menabung untuk membeli pakaian tertutup dan mengoleksi berbagai macam
model dan warna khimar. Alhamdulillah karena dulu aku sempat bekerja
sebagai penyiar radio, dan dengan gaji yang tidak seberapa, tetapi tetap
aku syukuri karena dengan ni’matNya aku bisa memenuhi apa yang menjadi
kebutuhanku, termasuk pakaian tertutup yang aku mau, semua karena niatku
untuk berhijab. Meski pakaian yang aku kenakan dulu jauh dari kata
sempurna, masih mengenakan jeans dan pakaian ketat, serta khimar yang
tidak menutup dada sesuai dengan perintah Allah.
Perjuanganku belum dimulai, itu hanya sebatas kegemaranku mengoleksi pakaian tertutup dan khimar, perjuanganku justru dimulai ketika aku berpikir bagaimana caranya seorang wanita non muslim sepertiku bisa berhijab, apa tanggapan tetangga dan teman-teman kampusku nanti ?? Tapi hal ini tidak terlalu aku hiraukan, aku pikir justru mereka akan senang melihatku terlihat sama seperti meraka, dan yang aku takutkan justru keluargaku, terutama Ibu. Alasan apa yang harus aku beri untuk Ibuku ?? Ingin bibir ini berucap ‘Ibu, aku ingin berhijab’ meskipun dulu niatku berhijab bukan untuk memenuhi kewajiban sebagai muslimah untuk menutup auratnya tapi hanya sekedar fashion belaka. Aku terus berfikir, hingga akhirnya aku menemukan alasan yang tepat untuk aku berhijab.
Karena setiap hari aku berangkat ke kampus memakai kendaran umum, yang tidak semua penumpangnya mengerti, selalu saja ada yang merokok, itu membuatku sesak dan bau karena asapnya. Dari rumah bersolek habis-habisan dan memakai minyak wangi tapi tetap saja ketika tiba dikampus wangi parfumku berubah menjadi bau asap rokok. Itulah alasanku, agar rambutku tidak bau asap rokok dan bau matahari jadi aku memutuskan menutup rambutku dengan khimar yang diam-diam aku kumpulkan selama ini.
Hari pertama berhijab, rasanya aneh, ada sesuatu yang berlebihan dikepalaku, aku harus terus menjaganya supaya tetap rapih, kemana-mana cermin selalu aku bawa, aku takut khimarku berantakan dan aku tidak bisa merapihkannya kembali.
Dikampus, apa yang aku duga ternyata tidak salah, teman-temanku justru terlihat senang dengan penampilan baruku, tak sedikit dari meraka yang memujiku, dan karena pujian dari merekalah aku semakin yakin dan bersemangat untuk terus berhijab.
Seiring berjalannya waktu, hidayah itu perlahan kembali menyapaku, aku pernah mendengar bahwa jika fisik ini terhijab secara otomatis hatipun ikut terhijab dan hijab itulah yang akan mengekang kita untuk tidak berbuat buruk.
Berawal dari ibu yang mengenalkanku dengan seorang pria yang sama sekali tak terbayang olehku jika pria itulah yang sekarang menemani hari-hariku, yang selalu membimbing aku menjadi wanita yang lebih baik, insyaAllah.
Dulu, sedikitpun tak ada rasa suka, cinta apalagi sayang untuknya. Entahlah, aku tak tahu apa tujuan ibu mengenalkan pria itu untukku, bukankah Ibu menginginkan aku menikah dengan pria yang memeluk agama sama seperti kita. Kata Ibu pria itu baik, dia bijaksana, pekerja keras dan bertanggung jawab, itu yang Ibu suka darinya meskipun kita berbeda agama.
Aku bingung, kesal dan merasa lelah, tak tahu apa yang harus aku lakukan sementara Ibu semakin gencar mendekatkan aku dengan pria itu. Hingga akhirnya aku meminta pendapat kepada seorang sahabat, dan dia menyarankan untuk aku menuruti perintah Ibu dan membuka hati untuk pria itu. Dan aku berusaha mencoba membuka hati ini untuk pria pilihan Ibu.
Benci jadi cinta, mungkin ini kalimat yang pas untuk mewakiliku saat itu. Dulu aku yang sangat membenci pria itu justru sekarang aku sangat mengaguminya. Dan disaat rasa cinta itu sedikit demi sedikit mulai tumbuh, masalah baru muncul, Ibu berbalik menyuruhku untuk tidak dekat-dekat dengan pria itu kecuali aku bisa mengajaknya memeluk agama yang kita anut. Aku bingung justru ketika aku memutuskan berhijab dan membuka hatiku untuk pria itu, ada getaran dihatiku untuk mengenal islam. tapi aku tak kuasa mengutarakan inginku itu kepada Ibu.
Meski aku tau apa yang Ibu mau, tapi sepertinya aku tidak kuat menahan sesuatu yang menarik-narik hatiku untuk terus mengenal islam. Dan akhirnya aku memutuskan belajar islam secara diam-diam, aku memilih internet dan orang-orang terdekat untuk aku ajak sharing tentang islam, hingga akhirnya aktivitasku tercium oleh Ibu.
Amarahnya semakin memuncak ketika aku mengucapkan dua kalimat syahadat dan melaksanakan kewajibanku sebagai manusia baru, yaitu shalat. Semua itu berat untuk aku jalani, semenjak memutuskan berhijrah cobaan bertubi-tubi menghampiriku, aku merasa bahwa keberadaanku dirumah dianggap tidak ada, aku merasa asing dalam lingkungan keluargaku sendiri, diacuhkan dan didiamkan tanpa pernah ada satu kalimat sekedar menanyakan keadaanku. Satu tahun berlalu, sunyi itu mendekapku, sepi tanpa ada tegur sapa dan canda tawa dari Ibu.
Sebagai manusia biasa yang merasa tersakiti, aku selalu mencoba untuk terus bersabar, meyakini bahwa ujian yang diturunkan kepada manusia adalah sesuai dengan kadar kemampuan masing-masing. Allah mengajarkan untuk mengahadapinya dengan sabar dan shalat sebagai penolong, sesuai dengan firmanNya dalam surat Al-Baqarah ayat 286 :
“Allah tidak akan membebani seseorang melainka sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan mendapat siksa (dari kejahatan yang dikerjakannya)
Oleh karena itu aku ikhlas, meski semua mengasingkanku, tapi aku memaklumi Ibu yang ketika itu menjadi sangat membenciku. Ibu mana yang mau anaknya keluar dari agama yang dianggapnya benar.
Puncaknya ketika aku merasa kesabaranku sudah habis, aku sudah tidak tahan berada dalam lingkunganku sendiri, aku memutuskan untuk pergi dari rumah dan hanya meninggalkan sepucuk surat, agar kedua orang tuaku tidak khawatir kalau aku akan baik-baik saja.
Pondok Pesantren Al-Muttaqin adalah tujuanku, disana aku memulai hidup baru yang jauh berbeda dari hidupku yang sebelumnya. Hidup tanpa handphone dan sosial media rasanya jendela dunia seperti tertutup untukku. Tanpa alat komunikasi aku tak pernah tau bagaimana kabar diluar sana, bagaimana kabar orangtuaku, bagaimana kabar adik-adikku, bagaimana kabar sahabat-sahabatku, dan bagaimana kabar pria itu. Tapi lambat laun aku bisa beradaptasi dengan lingkungan baruku, aku sudah terbiasa untuk belajar mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga sendiri, aku belajar hidup mandiri dan belajar hidup sederhana. Semua dimulai dari nol aku belajar islam, dari menghafalkan huruf hijaiyah, menulis dan membaca tulisan arab. Layaknya anak TK yang sedang belajar membaca dan menulis, ada rasa malu ketika melihat santri yang lain sudah sangat pandai, tapi aku buang jauh-jauh semua rasa malu itu, aku harus berusaha jangan sampai pengorbananku meninggalkan rumah menjadi sia-sia jika samasekali tak ada ilmu yang aku dapat.
Dipondok, busanaku tampak berbeda dengan mereka yang mengenakan jilbab dan menjulurkan kerudungnya sampai menutupi dada. Aku bertanya kepada salah satu santri wanita kenapa disini harus mengenakan jilbab atau rok dan kereudung yang besar ?? Apakah tidak akan menghalangi aktivitas kita, mengingat dipondok semua pekerjaan seperti mencuci pakaian, mencuci piring, menyapu, mengepel, bahkan membelah-belah kayu untuk dijadikan kayu bakar, busana syar’i itu tetap dipakai. Kami boleh memakai baju lengan pendek dan tanpa kerudung hanya didalam kamar tidur, itupun ada beberapa yang menutup rapat auratnya.
Di Al-Muttaqin kami diajarkan untuk menjadi muslimah sebenarnya, berbusana sesuai syari’at, karena sesungguhnya busana syar’i itu memuliakan wanita dan busana yang bisa menjaga diri kita dari perbuatan tidak baik.. Walaupun masih banyak muslimah yang beranggapan untuk apa berhijab tapi hatinya busuk. Sejatinya mereka tidak paham, karena antara akhlak dan hijab adalah dua perkara yanh berbeda. Hijab adalah mutlak perintah Allah, sedangkan akhlak urusannya dengan hati, dan setiap orang memiliki wataknya masing-masing. Wanita yang berhijab memang belum tentu sholehah tetapi wanita sholehah sudah tentu berhijab. Setelah aku paham, akupun mulai meninggalkan khimar tipis dan pakaian ketatku, mulai belajar mengenakan jilbab dan kerudung besar yang menutupi dada. Dan ternyata tidak seburuk yang aku bayangkan, aku merasa nyaman memakainya, walaupun sedikit resah, aku takut jika berbusana seperti ini apa anggapan orang-orang terhadapku, apa mereka akan menganggap aku golongan teroris dan golongan orang-orang panatik. Dan ternyata benar ketika ada salah seorang kerabat menjengukku dipondok, dia terkejut melihat perubahanku dan memandangku penuh curiga.
Hari berganti minggu dan bulan, aku mendapat kejutan. Guruku berkata seseorang ingin bertemu denganku, dengan hati penasaran aku terus bertanya-tanya siapa yang mau menemuiku, apakah orang tuaku ?? Ditemani kedua guruku dan teman terdekatku di pondok, aku menemui orang itu, dan tenyata dia adalah pria yang selalu hadir dalam anganku setiap hari. Bukan cokelat, durian atau ice cream kesukaanku yang pria itu bawa, tapi pria itu membawa cinta yang tulus. Tak kusangka pria itu berani mengkhitbahku lewat guruku dipondok. Aku pun menerima lamarannya karena aku tahu tidak baik menolak lamaran pria sholeh.
“Apabila datang kepada kalian seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya (untuk meminang wanita kalian) maka hendaknya kalian menikahkannya dengan wanita kalian. Bila tidak akan terjadi fitnah dimuka bumi dan kerusakan.” -HR At-Tirmidzi no 1085-
Perjuangan baru kembali dimulai, guruku menyarankan agar kita menghadap orangtuaku untuk masalah ini, apapun hasilnya yang penting kita sudah berusaha dan tidak mendahului mereka. Aku diijinkan untuk menelpon Ayahku, sementara pria itu langsung menemui keluargaku dirumah. Alhamdulillah meski tanpa restu ibu kami bisa melangsungkan pernikahan. Dan seiring berjalannya waktu ketika kami dikaruniai putri kecil buah cinta kami, Ibupun mau menerimaku kembali dan hubungan kami kembali seperti dulu. Terimakasih Ibu cintamu sungguh luar biasa, engkau mampu mebuang amarahmu dan menerimaku kembali dalam dekapanmu.
Dan setelah menikah, aku baru tahu mengapa suamiku dulu tak menjauhiku padahal aku selalu berusaha untuk menjauh darinya. Semua karena perbedaan agama kita yang membuat suamiku merasa tidak rela jika aku harus merasakan panasnya api neraka karena kekafiranku. Terimakasih suamiku, terimakasih Ibu, engkau memang tepat memilihkan suami dan Abi terbaik untukku dan buah cinta kita.
Setelah menikah, dan duniaku kembali terasa indah, perjuanganku belum berakhir. Kini tugasku mensyiarkan hijab syar’i kepada seluruh muslimah, mengajak untuk berbusana yang Allah perintahkan dalam Al-qur’an surat An-Nur ayat 30 :
“Dan katakanlah kepada perempuan beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya dan janganlah menampakan perhiasannya (auratnya) kecuali yang (biasa) nampak dari pandangan dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya.”
dan surat Al-Ahzab ayat 59 :
“Wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin : ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka’ yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenal, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Semoga Allah selalu memberi kemudahan untukku, walaupun ketika aku mencoba untuk membumikan hijab syar’i, ada segelintir orang yang memandangku sebelah mata, karena melihat masalaluku, bakhan ada yang mengatakan diri ini berlaga suci dan terlalu panatik. Semua itu tak aku hiraukan, karena Allah berfirman dalam surat Al-a’raaf ayat 176 :
“Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya dijulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia menjulurkan lidahnya (juga). Demikian itu perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.”
Dan aku selalu mengingat nasihat seorang sahabat.
“selama kita berbicara sesuai Al-qur’an dan Hadist kita tidak perlu takut, sesungguhnya meraka yang mencibir kita tidak tahu apa yang mereka perbuat, mereka tidak sadar, bukan kitalah yang sedang mereka cibir, tapi mereka sedang memberi protes penolakan terhadap perintah Allah. Bahkan Rasulullah pun pernah mengalami penolakan dalam dakwahnya.”
Dan aku sangat menyadari, diri ini belumlah memiliki banyak ilmu agama, akan tetapi aku selalu berusaha walaupun dengan ilmu yang sedikit ini, aku ingin selalu hidup sesuai aturan Allah.
Karena yang aku tahu, ilmu yang sesungguhnya itu ialah yang diamalkan. Dan insyaAllah, Allah lebih menyukai terhadap orang yang meskipun ilmunya sedikit tapi ia konsisten dan sedikit demi sedikit mengamalkannya daripada orang yang banyak menuntut ilmu tetapi ia sampai tak kuasa untuk mengamalkannya.
Disetiap sujudku, aku selalu memohon semoga Allah tidak hanya menyapaku, semoga orang-orang yang aku sayangi juga bisa menjemput hidayah Allah yang begitu indah. Dan semoga aku bisa istiqamah dengan busana syar’i yang aku kenakan sekarang supaya bisa menjadi contoh yang baik untuk putri kecilku dan menjadi istri sholehah untuk suamiku. Karena Rasulullah bersabda :
“Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah.” -HR Muslim-
Kami ingin menanamkan rasa malu sejak dini untuk buah hati kami, salah satunya tidak memamerkan aurat kepada sembarang mata, yaitu dengan berbusana syar’i. Karena Allah berfirman dalam surat At-Tahrim ayat 6 :
“Hai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
Nama : Naila Azizah
Akun FB : Naila Azizah Bardani
Akun Twitter : Naila Azizah
Cr : http://sheikahijab.com/kisah-yang-sangat-mengharukan-kisah-ini-akan-menginspirasi-pembacanya-untuk-hijrah-lebih-syari-detail-820
Perjuanganku belum dimulai, itu hanya sebatas kegemaranku mengoleksi pakaian tertutup dan khimar, perjuanganku justru dimulai ketika aku berpikir bagaimana caranya seorang wanita non muslim sepertiku bisa berhijab, apa tanggapan tetangga dan teman-teman kampusku nanti ?? Tapi hal ini tidak terlalu aku hiraukan, aku pikir justru mereka akan senang melihatku terlihat sama seperti meraka, dan yang aku takutkan justru keluargaku, terutama Ibu. Alasan apa yang harus aku beri untuk Ibuku ?? Ingin bibir ini berucap ‘Ibu, aku ingin berhijab’ meskipun dulu niatku berhijab bukan untuk memenuhi kewajiban sebagai muslimah untuk menutup auratnya tapi hanya sekedar fashion belaka. Aku terus berfikir, hingga akhirnya aku menemukan alasan yang tepat untuk aku berhijab.
Karena setiap hari aku berangkat ke kampus memakai kendaran umum, yang tidak semua penumpangnya mengerti, selalu saja ada yang merokok, itu membuatku sesak dan bau karena asapnya. Dari rumah bersolek habis-habisan dan memakai minyak wangi tapi tetap saja ketika tiba dikampus wangi parfumku berubah menjadi bau asap rokok. Itulah alasanku, agar rambutku tidak bau asap rokok dan bau matahari jadi aku memutuskan menutup rambutku dengan khimar yang diam-diam aku kumpulkan selama ini.
Hari pertama berhijab, rasanya aneh, ada sesuatu yang berlebihan dikepalaku, aku harus terus menjaganya supaya tetap rapih, kemana-mana cermin selalu aku bawa, aku takut khimarku berantakan dan aku tidak bisa merapihkannya kembali.
Dikampus, apa yang aku duga ternyata tidak salah, teman-temanku justru terlihat senang dengan penampilan baruku, tak sedikit dari meraka yang memujiku, dan karena pujian dari merekalah aku semakin yakin dan bersemangat untuk terus berhijab.
Seiring berjalannya waktu, hidayah itu perlahan kembali menyapaku, aku pernah mendengar bahwa jika fisik ini terhijab secara otomatis hatipun ikut terhijab dan hijab itulah yang akan mengekang kita untuk tidak berbuat buruk.
Berawal dari ibu yang mengenalkanku dengan seorang pria yang sama sekali tak terbayang olehku jika pria itulah yang sekarang menemani hari-hariku, yang selalu membimbing aku menjadi wanita yang lebih baik, insyaAllah.
Dulu, sedikitpun tak ada rasa suka, cinta apalagi sayang untuknya. Entahlah, aku tak tahu apa tujuan ibu mengenalkan pria itu untukku, bukankah Ibu menginginkan aku menikah dengan pria yang memeluk agama sama seperti kita. Kata Ibu pria itu baik, dia bijaksana, pekerja keras dan bertanggung jawab, itu yang Ibu suka darinya meskipun kita berbeda agama.
Aku bingung, kesal dan merasa lelah, tak tahu apa yang harus aku lakukan sementara Ibu semakin gencar mendekatkan aku dengan pria itu. Hingga akhirnya aku meminta pendapat kepada seorang sahabat, dan dia menyarankan untuk aku menuruti perintah Ibu dan membuka hati untuk pria itu. Dan aku berusaha mencoba membuka hati ini untuk pria pilihan Ibu.
Benci jadi cinta, mungkin ini kalimat yang pas untuk mewakiliku saat itu. Dulu aku yang sangat membenci pria itu justru sekarang aku sangat mengaguminya. Dan disaat rasa cinta itu sedikit demi sedikit mulai tumbuh, masalah baru muncul, Ibu berbalik menyuruhku untuk tidak dekat-dekat dengan pria itu kecuali aku bisa mengajaknya memeluk agama yang kita anut. Aku bingung justru ketika aku memutuskan berhijab dan membuka hatiku untuk pria itu, ada getaran dihatiku untuk mengenal islam. tapi aku tak kuasa mengutarakan inginku itu kepada Ibu.
Meski aku tau apa yang Ibu mau, tapi sepertinya aku tidak kuat menahan sesuatu yang menarik-narik hatiku untuk terus mengenal islam. Dan akhirnya aku memutuskan belajar islam secara diam-diam, aku memilih internet dan orang-orang terdekat untuk aku ajak sharing tentang islam, hingga akhirnya aktivitasku tercium oleh Ibu.
Amarahnya semakin memuncak ketika aku mengucapkan dua kalimat syahadat dan melaksanakan kewajibanku sebagai manusia baru, yaitu shalat. Semua itu berat untuk aku jalani, semenjak memutuskan berhijrah cobaan bertubi-tubi menghampiriku, aku merasa bahwa keberadaanku dirumah dianggap tidak ada, aku merasa asing dalam lingkungan keluargaku sendiri, diacuhkan dan didiamkan tanpa pernah ada satu kalimat sekedar menanyakan keadaanku. Satu tahun berlalu, sunyi itu mendekapku, sepi tanpa ada tegur sapa dan canda tawa dari Ibu.
Sebagai manusia biasa yang merasa tersakiti, aku selalu mencoba untuk terus bersabar, meyakini bahwa ujian yang diturunkan kepada manusia adalah sesuai dengan kadar kemampuan masing-masing. Allah mengajarkan untuk mengahadapinya dengan sabar dan shalat sebagai penolong, sesuai dengan firmanNya dalam surat Al-Baqarah ayat 286 :
“Allah tidak akan membebani seseorang melainka sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan mendapat siksa (dari kejahatan yang dikerjakannya)
Oleh karena itu aku ikhlas, meski semua mengasingkanku, tapi aku memaklumi Ibu yang ketika itu menjadi sangat membenciku. Ibu mana yang mau anaknya keluar dari agama yang dianggapnya benar.
Puncaknya ketika aku merasa kesabaranku sudah habis, aku sudah tidak tahan berada dalam lingkunganku sendiri, aku memutuskan untuk pergi dari rumah dan hanya meninggalkan sepucuk surat, agar kedua orang tuaku tidak khawatir kalau aku akan baik-baik saja.
Pondok Pesantren Al-Muttaqin adalah tujuanku, disana aku memulai hidup baru yang jauh berbeda dari hidupku yang sebelumnya. Hidup tanpa handphone dan sosial media rasanya jendela dunia seperti tertutup untukku. Tanpa alat komunikasi aku tak pernah tau bagaimana kabar diluar sana, bagaimana kabar orangtuaku, bagaimana kabar adik-adikku, bagaimana kabar sahabat-sahabatku, dan bagaimana kabar pria itu. Tapi lambat laun aku bisa beradaptasi dengan lingkungan baruku, aku sudah terbiasa untuk belajar mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga sendiri, aku belajar hidup mandiri dan belajar hidup sederhana. Semua dimulai dari nol aku belajar islam, dari menghafalkan huruf hijaiyah, menulis dan membaca tulisan arab. Layaknya anak TK yang sedang belajar membaca dan menulis, ada rasa malu ketika melihat santri yang lain sudah sangat pandai, tapi aku buang jauh-jauh semua rasa malu itu, aku harus berusaha jangan sampai pengorbananku meninggalkan rumah menjadi sia-sia jika samasekali tak ada ilmu yang aku dapat.
Dipondok, busanaku tampak berbeda dengan mereka yang mengenakan jilbab dan menjulurkan kerudungnya sampai menutupi dada. Aku bertanya kepada salah satu santri wanita kenapa disini harus mengenakan jilbab atau rok dan kereudung yang besar ?? Apakah tidak akan menghalangi aktivitas kita, mengingat dipondok semua pekerjaan seperti mencuci pakaian, mencuci piring, menyapu, mengepel, bahkan membelah-belah kayu untuk dijadikan kayu bakar, busana syar’i itu tetap dipakai. Kami boleh memakai baju lengan pendek dan tanpa kerudung hanya didalam kamar tidur, itupun ada beberapa yang menutup rapat auratnya.
Di Al-Muttaqin kami diajarkan untuk menjadi muslimah sebenarnya, berbusana sesuai syari’at, karena sesungguhnya busana syar’i itu memuliakan wanita dan busana yang bisa menjaga diri kita dari perbuatan tidak baik.. Walaupun masih banyak muslimah yang beranggapan untuk apa berhijab tapi hatinya busuk. Sejatinya mereka tidak paham, karena antara akhlak dan hijab adalah dua perkara yanh berbeda. Hijab adalah mutlak perintah Allah, sedangkan akhlak urusannya dengan hati, dan setiap orang memiliki wataknya masing-masing. Wanita yang berhijab memang belum tentu sholehah tetapi wanita sholehah sudah tentu berhijab. Setelah aku paham, akupun mulai meninggalkan khimar tipis dan pakaian ketatku, mulai belajar mengenakan jilbab dan kerudung besar yang menutupi dada. Dan ternyata tidak seburuk yang aku bayangkan, aku merasa nyaman memakainya, walaupun sedikit resah, aku takut jika berbusana seperti ini apa anggapan orang-orang terhadapku, apa mereka akan menganggap aku golongan teroris dan golongan orang-orang panatik. Dan ternyata benar ketika ada salah seorang kerabat menjengukku dipondok, dia terkejut melihat perubahanku dan memandangku penuh curiga.
Hari berganti minggu dan bulan, aku mendapat kejutan. Guruku berkata seseorang ingin bertemu denganku, dengan hati penasaran aku terus bertanya-tanya siapa yang mau menemuiku, apakah orang tuaku ?? Ditemani kedua guruku dan teman terdekatku di pondok, aku menemui orang itu, dan tenyata dia adalah pria yang selalu hadir dalam anganku setiap hari. Bukan cokelat, durian atau ice cream kesukaanku yang pria itu bawa, tapi pria itu membawa cinta yang tulus. Tak kusangka pria itu berani mengkhitbahku lewat guruku dipondok. Aku pun menerima lamarannya karena aku tahu tidak baik menolak lamaran pria sholeh.
“Apabila datang kepada kalian seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya (untuk meminang wanita kalian) maka hendaknya kalian menikahkannya dengan wanita kalian. Bila tidak akan terjadi fitnah dimuka bumi dan kerusakan.” -HR At-Tirmidzi no 1085-
Perjuangan baru kembali dimulai, guruku menyarankan agar kita menghadap orangtuaku untuk masalah ini, apapun hasilnya yang penting kita sudah berusaha dan tidak mendahului mereka. Aku diijinkan untuk menelpon Ayahku, sementara pria itu langsung menemui keluargaku dirumah. Alhamdulillah meski tanpa restu ibu kami bisa melangsungkan pernikahan. Dan seiring berjalannya waktu ketika kami dikaruniai putri kecil buah cinta kami, Ibupun mau menerimaku kembali dan hubungan kami kembali seperti dulu. Terimakasih Ibu cintamu sungguh luar biasa, engkau mampu mebuang amarahmu dan menerimaku kembali dalam dekapanmu.
Dan setelah menikah, aku baru tahu mengapa suamiku dulu tak menjauhiku padahal aku selalu berusaha untuk menjauh darinya. Semua karena perbedaan agama kita yang membuat suamiku merasa tidak rela jika aku harus merasakan panasnya api neraka karena kekafiranku. Terimakasih suamiku, terimakasih Ibu, engkau memang tepat memilihkan suami dan Abi terbaik untukku dan buah cinta kita.
Setelah menikah, dan duniaku kembali terasa indah, perjuanganku belum berakhir. Kini tugasku mensyiarkan hijab syar’i kepada seluruh muslimah, mengajak untuk berbusana yang Allah perintahkan dalam Al-qur’an surat An-Nur ayat 30 :
“Dan katakanlah kepada perempuan beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya dan janganlah menampakan perhiasannya (auratnya) kecuali yang (biasa) nampak dari pandangan dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya.”
dan surat Al-Ahzab ayat 59 :
“Wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin : ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka’ yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenal, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Semoga Allah selalu memberi kemudahan untukku, walaupun ketika aku mencoba untuk membumikan hijab syar’i, ada segelintir orang yang memandangku sebelah mata, karena melihat masalaluku, bakhan ada yang mengatakan diri ini berlaga suci dan terlalu panatik. Semua itu tak aku hiraukan, karena Allah berfirman dalam surat Al-a’raaf ayat 176 :
“Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya dijulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia menjulurkan lidahnya (juga). Demikian itu perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.”
Dan aku selalu mengingat nasihat seorang sahabat.
“selama kita berbicara sesuai Al-qur’an dan Hadist kita tidak perlu takut, sesungguhnya meraka yang mencibir kita tidak tahu apa yang mereka perbuat, mereka tidak sadar, bukan kitalah yang sedang mereka cibir, tapi mereka sedang memberi protes penolakan terhadap perintah Allah. Bahkan Rasulullah pun pernah mengalami penolakan dalam dakwahnya.”
Dan aku sangat menyadari, diri ini belumlah memiliki banyak ilmu agama, akan tetapi aku selalu berusaha walaupun dengan ilmu yang sedikit ini, aku ingin selalu hidup sesuai aturan Allah.
Karena yang aku tahu, ilmu yang sesungguhnya itu ialah yang diamalkan. Dan insyaAllah, Allah lebih menyukai terhadap orang yang meskipun ilmunya sedikit tapi ia konsisten dan sedikit demi sedikit mengamalkannya daripada orang yang banyak menuntut ilmu tetapi ia sampai tak kuasa untuk mengamalkannya.
Disetiap sujudku, aku selalu memohon semoga Allah tidak hanya menyapaku, semoga orang-orang yang aku sayangi juga bisa menjemput hidayah Allah yang begitu indah. Dan semoga aku bisa istiqamah dengan busana syar’i yang aku kenakan sekarang supaya bisa menjadi contoh yang baik untuk putri kecilku dan menjadi istri sholehah untuk suamiku. Karena Rasulullah bersabda :
“Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah.” -HR Muslim-
Kami ingin menanamkan rasa malu sejak dini untuk buah hati kami, salah satunya tidak memamerkan aurat kepada sembarang mata, yaitu dengan berbusana syar’i. Karena Allah berfirman dalam surat At-Tahrim ayat 6 :
“Hai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
Nama : Naila Azizah
Akun FB : Naila Azizah Bardani
Akun Twitter : Naila Azizah
Cr : http://sheikahijab.com/kisah-yang-sangat-mengharukan-kisah-ini-akan-menginspirasi-pembacanya-untuk-hijrah-lebih-syari-detail-820
Kelebihan dari Bank Syariah
Banyak yang memandang perbankan syariah belum terlalu berkembang dan
diminati dibandingkan bank konvensional. Namun pada faktanya, apa yang
ditawarkan oleh bank syariah tidak kalah dengan konvensional yang lebih
dahulu populer.
Bahkan, perbankan syariah memiliki beberapa keunggulan yang tidak dimiliki oleh perbankan konvensional, dan membuatnya lebih prudence serta tahan terhadap guncangan krisis.
Lalu apa saja keunggulan produk bank syariah yang belum diketahui banyak orang, beberapa hal berikut ini mungkin patut Anda simak:
1. Fasilitas Selengkap Bank Konvensional
Banyak orang yang berpikiran bahwa karena perbankan syariah masih baru, jenis transaksi yang dapat dilakukan hanya sedikit. Anggapan tersebut dulu mungkin bisa dimengerti, tapi sekarang sama sekali tidak benar.
Bank Syariah saat ini sangat modern. Semua jenis transaksi mulai dari tabungan, deposito, kredit usaha, kredit rumah, kliring, dan sebagainya dapat dilakukan dengan nyaman.
Mayoritas Bank Syariah terhubung dengan jaringan online ATM Bersama sehingga Anda dapat tarik tunai dan transfer realtime dari/ke bank lain dengan mudah. Beberapa Bank ada yang menggratiskan biaya untuk ini.
Beberapa Bank Syariah yang memberikan layanan Internet Banking, SMS Banking, bahkan kartu kredit syariah sehingga lebih praktis.
2. Manajemen Finansial yang Lebih Aman
Tragedi finansial kredit subprime tahun 2007 nyaris tidak menggoyahkan investasi yang berbasis syariah. Di saat banyak bank investasi dan bank-bank besar bangkrut maupun membutuhkan kucuran dana, banyak Bank Syariah baru yang justru bermunculan atau buka cabang.
Krisis ekonomi justru telah memuktikan bahwa manajemen finansial berbasis syariah jauh lebih aman dibandingkan ekonomi liberal yang dianut bank konvensional.
3. Anda Berkontribusi Langsung Memperkuat Bank Syariah
Bank konvensional menentukan sendiri suku bunga pinjaman maupun simpanan berdasarkan ketetapan Bank Indonesia. Ada kemungkinan meski kondisi bank kurang baik, tetap dapat “memberikan” bunga simpanan tinggi dan bunga kredit rendah. Hal ini dapat membahayakan bank tersebut.
Bank Syariah memberikan nisbah (“bunga” simpanan) berdasarkan perkembangan finansial perusahaan. Secara tidak langsung Anda menjadi “pemegang saham” di Bank Syariah Anda.
Setiap simpanan Anda akan memperkuat investasi bank. Setiap pinjaman Anda akan memperkuat keuntungan bank. Semakin usaha Anda berkembang, bank juga semakin berkembang karena kredit yang diberikan menggunakan skema bagi-hasil. Semakin maju bank, semakin banyak pula keuntungan bank yang dapat dibagikan sebagai nisbah kepada para nasabah.
4. Membantu Orang yang Butuh Dizakati
Bank Syariah mengeluarkan 2,5 persen dari keuntungan tahunannya untuk dizakatkan. (Anda sendiri tentunya masih harus berzakat bila Anda muslim.) Namun bank konvensional tidak mempunyai kewajiban berzakat.
Dengan menggunakan layanan Bank Syariah, secara tidak langsung Anda turut berzakat dan membantu mereka yang membutuhkan.
5. 100 Persen Halal
Kredit yang diberikan oleh bank syariah mempunyai persyaratan yang mewajibkan dana digunakan untuk aktivitas yang halal. Bisnis yang dibiayai bank syariah, juga tidak boleh berisiko mengandung kegiatan yang diharamkan oleh agama Islam.
Hal ini sama sekali tidak membatasi nasabah bank syariah harus muslim, justru agama apa pun boleh, asal halal pemakaiannya. Meskipun nasabah tersebut muslim, tapi jika pemakaian dana atau usaha yang dijalankannya tidak halal, maka dia tidak diperkenankan untuk mengambil kredit di Bank Syariah.
Cr : http://www.beritasatu.com/ekonomi/62321-5-keunggulan-perbankan-syariah.html
Bahkan, perbankan syariah memiliki beberapa keunggulan yang tidak dimiliki oleh perbankan konvensional, dan membuatnya lebih prudence serta tahan terhadap guncangan krisis.
Lalu apa saja keunggulan produk bank syariah yang belum diketahui banyak orang, beberapa hal berikut ini mungkin patut Anda simak:
1. Fasilitas Selengkap Bank Konvensional
Banyak orang yang berpikiran bahwa karena perbankan syariah masih baru, jenis transaksi yang dapat dilakukan hanya sedikit. Anggapan tersebut dulu mungkin bisa dimengerti, tapi sekarang sama sekali tidak benar.
Bank Syariah saat ini sangat modern. Semua jenis transaksi mulai dari tabungan, deposito, kredit usaha, kredit rumah, kliring, dan sebagainya dapat dilakukan dengan nyaman.
Mayoritas Bank Syariah terhubung dengan jaringan online ATM Bersama sehingga Anda dapat tarik tunai dan transfer realtime dari/ke bank lain dengan mudah. Beberapa Bank ada yang menggratiskan biaya untuk ini.
Beberapa Bank Syariah yang memberikan layanan Internet Banking, SMS Banking, bahkan kartu kredit syariah sehingga lebih praktis.
2. Manajemen Finansial yang Lebih Aman
Tragedi finansial kredit subprime tahun 2007 nyaris tidak menggoyahkan investasi yang berbasis syariah. Di saat banyak bank investasi dan bank-bank besar bangkrut maupun membutuhkan kucuran dana, banyak Bank Syariah baru yang justru bermunculan atau buka cabang.
Krisis ekonomi justru telah memuktikan bahwa manajemen finansial berbasis syariah jauh lebih aman dibandingkan ekonomi liberal yang dianut bank konvensional.
3. Anda Berkontribusi Langsung Memperkuat Bank Syariah
Bank konvensional menentukan sendiri suku bunga pinjaman maupun simpanan berdasarkan ketetapan Bank Indonesia. Ada kemungkinan meski kondisi bank kurang baik, tetap dapat “memberikan” bunga simpanan tinggi dan bunga kredit rendah. Hal ini dapat membahayakan bank tersebut.
Bank Syariah memberikan nisbah (“bunga” simpanan) berdasarkan perkembangan finansial perusahaan. Secara tidak langsung Anda menjadi “pemegang saham” di Bank Syariah Anda.
Setiap simpanan Anda akan memperkuat investasi bank. Setiap pinjaman Anda akan memperkuat keuntungan bank. Semakin usaha Anda berkembang, bank juga semakin berkembang karena kredit yang diberikan menggunakan skema bagi-hasil. Semakin maju bank, semakin banyak pula keuntungan bank yang dapat dibagikan sebagai nisbah kepada para nasabah.
4. Membantu Orang yang Butuh Dizakati
Bank Syariah mengeluarkan 2,5 persen dari keuntungan tahunannya untuk dizakatkan. (Anda sendiri tentunya masih harus berzakat bila Anda muslim.) Namun bank konvensional tidak mempunyai kewajiban berzakat.
Dengan menggunakan layanan Bank Syariah, secara tidak langsung Anda turut berzakat dan membantu mereka yang membutuhkan.
5. 100 Persen Halal
Kredit yang diberikan oleh bank syariah mempunyai persyaratan yang mewajibkan dana digunakan untuk aktivitas yang halal. Bisnis yang dibiayai bank syariah, juga tidak boleh berisiko mengandung kegiatan yang diharamkan oleh agama Islam.
Hal ini sama sekali tidak membatasi nasabah bank syariah harus muslim, justru agama apa pun boleh, asal halal pemakaiannya. Meskipun nasabah tersebut muslim, tapi jika pemakaian dana atau usaha yang dijalankannya tidak halal, maka dia tidak diperkenankan untuk mengambil kredit di Bank Syariah.
Cr : http://www.beritasatu.com/ekonomi/62321-5-keunggulan-perbankan-syariah.html
15 Produk-produk Bank Syariah
Ekonomi Syariah telah muncul berabad-abad yang lalu, namun baru pada abad
ke-20 inilah Ekonomi Syariah mulai berkembang pesat dan menghadirkan sistem
perbankan Syariah. Perkembangan Ekonomi Syariah yang pesat pada abad ke-20
ditandai dengan munculnya berbagai lembaga keuangan Islam di negara-negara
dengan mayoritas penduduk beragama Islam di seluruh dunia. Sampai saat ini,
Ekonomi Syariah telah menunjukkan angka pertumbuhan yang signifikan dengan kecepatan
10 – 15 % per tahun dengan estimasi aset pada tahun 2005 mencapai 0,5% dari
total estimasi aset dunia.
Produk Perbankan Syariah merupakan produk-produk yang berlandaskan Prinsip Ekonomi Syariah. Dalam Prinsip Ekonomi Syariah tidak diperbolehkan mengenakan sistem riba serta menanamkan modal pada badan usaha yang mendapat keuntungan dari komoditas haram.
Produk Perbankan Syariah merupakan produk-produk yang berlandaskan Prinsip Ekonomi Syariah. Dalam Prinsip Ekonomi Syariah tidak diperbolehkan mengenakan sistem riba serta menanamkan modal pada badan usaha yang mendapat keuntungan dari komoditas haram.
Titipan atau Simpanan
- Al-Wadi’ah
- Mudharabah
Bagi Hasil
- Al-Mudharabah
- Al-Musyarakah
- Al-Muzara’ah
- Al-Musaqah
Jual Beli
- Bai’ Al-Murabahah
- Bai’ As-Salam
- Bai’ Al-Istishna’
- Al-Ijarah Al Muntahia Bit-Tamlik
Jasa
- Al-Wakalah
- Al-Kafalah
Al-Kafalah
pada prinsipnya merupakan penjaminan pemenuhan tanggung jawab oleh pihak bank
yang menjadi perantara antara dua orang yang berkewajiban dan yang berhak
menerima tanggung jawab tersebut. Contoh produk-produk Al-Kafalah diantaranya
seperti Letter of Credit untuk kegiatan impor dan Asuransi Syariah.
- Al-Hawalah
Al-Hawalah
pada dasarnya memiliki kesamaan dengan penjualan surat hutang. Pada Al-Hawalah,
baik kreditur ataupun debitur harus mencapai kesepakatan atas penjualan surat
hutang tersebut.
- Ar-Rahn
Ar-Rahn
merupakan produk gadai dengan prinsip-prinsip Syariah. Perbedaan Ar-Rahn dengan
gadai konvensional terletak pada tidak adanya riba. Meski begitu, pada Ar-Rahn
nasabah wajib untuk membayar jasa simpan Rp 90 per Rp 10.000 dari pinjaman
untuk setiap sepuluh hari masa gadai beserta biaya administrasi sesuai kesepakatan.
Selain itu, jangka waktu maksimal dari pinjaman adalah empat bulan, jika
setelah empat bulan tidak mampu membayar, maka barang yang digadaikan akan
dijual. Kemudian jika terdapat kelebihan harga antara harga jual dan pokok
pinjaman, maka kelebihan harga tersebut dapat diambil oleh pembeli atau
diserahkan ke Badan Amlil Zakat.
- Al-Qardh
Al-Qardh
merupakan Jasa Perbankan Syariah yang berupa pinjaman uang ataupun barang.
Senin, 02 Oktober 2017
Bangkitlah, Jangan Pernah Menyerah dan Tak Perlu Putus Asa!
HIDUP di dunia ini memiliki banyak persoalan yang harus dihadapi
oleh manusia. Tentu saja, ada banyak solusinya, bukan? Sebagai manusia yang
terlahir ke dunia dengan banyak kelebihan dibandingkan makhluk Tuhan lainnya,
kita harus semangat jalani kehidupan ini dengan semua tantangannya yang harus
kita hadapi. Tak perlu lari dari masalah bila kita sedang bermasalah. Untuk apa
berlari tapi kita tak bisa bersembunyi?
Kita akan semakin kesulitan
menyelesaikan satu masalah bila lari darinya. Tulisan ini adalah ajakan bagi
kita semua untuk hadapi hidup dengan penuh semangat dan tak pantas berputus
asa. Bukankah kita masih bisa bernafas sekarang? Kita tahu bahwa banyak orang
yang sedang mencari cara keluar dari masalah masing-masing. Bahkan, ada dari
rekan-rekan sedang memiliki beban ketika membaca tulisan ini.
Percaya dan yakinkan diri teman-teman bahwa hidup ini indah dengan
adanya masalah-masalah. Tuhan ciptakan semua itu lengkap dengan solusinya.
Tetapi, kita harus bersemangat hadapi semua itu dengan tidak menganggapnya
masalah. Anggap saja mereka sebagai tantangan yang harus kita hadapi. Tak perlu
taku! Kita pasti bisa hadapi semuanya dengan pikiran yang tenang dan semangat
tinggi arungi kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang. Masalah
sekecil apapun tak akan pernah terpecahkan bila kita takut menghadapinya.
Konon lagi masalah yang lebih besar dan kolosal, kita harus hadapi;
jangan lari! Putus asa itu bukanlah cara yang tepat menghadapi masalah. Jangan
menyerah dan bangkitlah kembali bila sedang terjatuh. Mari kita melangkah dan
kembali berjalan meski harus hadapi onak dan duri. Banyak rintangan yang kita
temukan di jalan yang berbatu dan berlubang. Tapi, tetap yakin bahwa kita akan
temukan jalan yang mulus. Andai pun kita harus seberangi sungai, merenangi
lautan, dan mendaki gunung yang terjal sekalipun tetaplah yakin bahwa semua
persoalan pelik yang kita hadapi hari ini akan hilang.
Semuanya akan berganti dengan kebahagian yang hakiki. Kita tak
perlu mengingat banyak persoalan pahit di masa lalu. Mari kita maafkan mereka
meskipun tidak bisa mengubah apa-apa, namun hal ini penting dalam upaya
membangun masa depan yang lebih baik seperti yang kita mau. Ingatlah pepatah
orang bijak bahwa pelaut ulung tidak pernah dilahirkan dari ombak yang tenang.
Tidak pernah! Tetap semangat jalani hidup dengan penuh keyakinan
akan berhasil. Tersenyumlah dengan tulus kepada saudara, tetangga, dan rekan-rekan
di lingkungan kita. Sikap ramah dengan tutur kata yang sopan kepada lawan
bicara adalah satu langkah maju menuju hidup sesuai dengan impian kita semua;
meraih sukses di dunia dan akhirat! Salam damai penuh cinta dari Aceh!
Berjuang Keras Untuk Masa Depan Yang Lebih Baik
Kepuasan Terletak Pada Usaha,
Bukan Pada Pencapaian. Usaha Penuh Berarti Kemenangan Penuh. Setiap pribadi
yang mau berjuang keras untuk masa depan yang lebih baik pasti akan meraih
sukses yang diinginkan. Yang perlu dipahami bahwa sukses itu tidak berarti
sekedar di ukur dari nilai uang, jabatan, pangkat, dan tampak luar.
Tetapi, sukses itu merupakan
sebuah keadaan jiwa, raga, pikiran dalam keseimbangan yang membahagiakan diri.
Untuk meraih sukses sesuai harapan dan impian kita, kita harus mau melakukan perubahan
terhadap perilaku dan pola pikir kita.
Di mana, perilaku dan pola pikir kita
itu harus memiliki tekad yang kuat untuk meraih Sukses yang kita inginkan. Ingat! Setiap orang tidak
sama, setiap orang punya mimpi yang berbeda, jadi kita tidak perlu mencontoh perilaku dan
pola pikir orang lain, tapi jadilah diri sendiri yang hebat dan unik.
Miliki mimpi dan cita-cita yang
hebat, lalu buatlah rencana yang detil dan konkret, kemudian rubahlah semua
rencana detil dan konkret itu menjadi tindakan untuk memperoleh sukses seperti
yang kita inginkan.
Salah satu rahasia menjadi pribadi
sukses, yaitu memiliki motivasi dan tekad yang kuat. Motivasi dan tekad yang
kuat harus diiringi dengan semangat juang sebagai pemacu daya dorong dan daya
tahan diri terhadap berbagai tantangan. Jadi, miliki keyakinan diri yang kuat
untuk mendukung kisah sukses kita
dalam mencapai semua impian dan harapan, sesuai target yang kita tetapkan melalui kalkulasi yang benar,
serta menghindari spekulasi yang berbahaya.
Kita harus selalu siaga satu terhadap berbagai potensi negatif diri Kita. Kita juga harus selalu belajar dan berlatih
untuk menemukan dan mengoptimalkan semua potensi diri Kita yang hebat.
Jangan pernah lalai untuk mengelola semua emosi positif Anda dengan tepat
sasaran, termasuk menyingkirkan setiap emosi negatif perusak dari dalam diri
Anda Anda dilahirkan untuk menjadi pemenang di dalam hidup Kita.
Hidup Kita itu milik Anda yang abadi. Jadi,
bangunlah jiwa Kita dengan kepercayaan diri yang tinggi, bangunlah raga Kita dengan tingkat kesehatan yang
optimal, dan bangunlah pikiran Kita dengan mental pemenang. Belajar
dan berlatilah selalu untuk mengaktifkan semua kekuatan potensi terdalam diri Kita, agar Kita mampu memiliki daya tahan diri yang
kuat dan kokoh dalam perjuangan panjang untuk meraih sukses.
Kembangkan diri Kita terus-menerus
tanpa pernah menyerah oleh situasi dan kondisi apa pun. Temukan ide-ide baru
yang cemerlang melalui kekuatan pikiran positif Anda. Ingat! Kita diciptakan Tuhan untuk menjadi
pemenang dalam hidup Kita.
Dan, sekarang tugas Anda-lah untuk berjuang keras, berjuang cerdas, berjuang
penuh taktik dan strategi yang kreatif agar Kita mampu mewujudkan setiap mimpi dan harapan Kita menjadi kenyataan.
Langganan:
Postingan (Atom)